Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Mei 2017

[REVIEW] Laskar pelangi

 Hasil gambar untuk review laskar pelangi
Judul : Laskar Pelangi
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang Pustaka
Tebal : 529 hal
ISBN : 979-3062-79-7
"Kami sangat menyukai pelangi. Bagi kami pelangi adalah lukisan alam, sketsa Tuhan yang mengandung daya tarik mencengangkan.
Tak tahu siapa di antara kami yang pertama kali memulai hobi ini, tapi jika musim hujan tiba kami tak sabar menunggu kehadiran lukisan langit manakjubkan itu.
Karena keragaman kolektif terhadap pelangi maka Bu Mus menamai kelompok kami Laskar Pelangi." (hal 160)
Masa kecil selalu indah untuk dikenang. Tanpa disadari apa yang kita alami di masa kecil akan membentuk kita pada hari ini. Apa yang kita lakukan hari ini, bagaimana cara pandang hidup kita terhadap hidup ini, semua terbentuk saat masa kecil.
Novel ini diangkat dari memoar masa kecil penulisnya – Andrea Hirata – atau tokoh Ikal dalam novel ini yang dengan apik mengolah pengalaman masa kecilnya bersama Laskar Pelangi menjadi suatu novel yang memikat dan menyentuh secara emosional bagi siapapun yang membacanya
Laskar Pelangi bertutur tentang petualangan kesebelas anak kampung Melayu Belitong yang hidup dalam kemelaratan.
Mereka secara tidak disengaja dipersatukan ketika sama-sama memasuki bangku sekolah di kampungnya. Novel ini diawali dengan kisah dramatis penerimaan murid baru di sekolah miskin SD Muhammadiyah yang merupakan satu-satunya sekolah yang ada di kampung tersebut.
Sebuah sekolah yang terpinggirkan dan hampir saja ditutup jika tak memenuhi kuota menerima 10 orang murid SD di tahun ajaran pertamanya.
Pada detik-detik terakhir menjelang batas waktu penerimaan murid baru usai kuota itu belum juga terpenuhi, para guru dan calon murid yang menunggunya sudah siap menelan kekecewaan tak bisa bersekolah karena sekolahnya akan ditutup..
Untunglah di detik-detik terakhir muncul seorang calon murid yang memungkinkan sekolah tersebut bisa terus berjalan.
Kesepuluh anak inilah yang merupakan cikal-bakal terbentuknya Laskar Pelangi.
Sembilan tahun bersama –sama (6 tahun SD dan 3 tahun SMP) dalam kelas dan bangku yang sama membuat ikatan persahabatan diantara mereka semakin erat, begitupun ikatan dengan guru dan sekolahnya yang membuat mereka saling melengkapi dan dengan kreativitasnya masing-masing membela dan memperjuangkan sekolah mereka dari pandangan rendah sekolah-sekolah lain diluar kampung mereka yang telah mapan.
Keragaman karakter Laskar Pelangi yang terjaga kekonsistenannya hingga akhir cerita membuat alur cerita dalam novel ini semakin menarik. Sebut saja tokoh Lintang si super jenius, Mahar sang seniman, Flo anak tomboi gedongan yang memutuskan untuk bergabung dengan Laskar Pelangi, Sahara gadis yang judes, Kucai yang bercita-cita jadi politikus, Samson yang perkasa, Syahdan yang ingin jadi aktor Akiong yang pengugup, Harun “anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa”, Trapani, pria yang tampan dan lembut, Borek si pengacau, dan Ikal si pemimpi yang merupakan tokoh yang bercerita dalam novel ini.
Memang tak semua anggota Laskar Pelangi mendapat porsi yang sama kemunculannya dalam novel ini, selain Ikal si pencerita tokoh Lintang mendapat porsi yang cukup banyak. Lintang si anak kuli kopra yang jenius yang harus bersepeda sejauh 80 klilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu membuat pembaca novel ini termotivasi semangatnya untuk terus mengejar ilmu tanpa menyerah. Berkat kejeniusannya Lintang kelak akan mengharumkan nama sekolahnya dalam lomba cerdas cermat yang diikuti oleh sekolah-sekolah terkenal di sekitar kampungnya.
Lalu ada tokoh Mahar seorang anak yang imajinatif, kreatif yang walaupun sering mendapat ejekan dari teman-temannya namun berhasil mengangkat derajat sekolahnya dalam karnaval 17 Agustus. Selain itu kesembilan orang Laskar Pelangi yang lain pun dalam novel ini dikisahkan begitu bersemangat dan berjuang dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita.
Keseluruhan kisah Laskar Pelangi ini tersaji dengan sangat memikat. Pembaca akan dibuat tercenung, menangis dan tertawa bersama kepolosan dan semangat juang para Laskar Pelangi.
Namun tak hanya itu saja, novel ini juga sangat berpotensi untuk memperluas wawasan pembacanya. Deskripsi lingkungan Kampung Melayu Belitong yang dideskripsikan secara jelas dan memikat membuat pembaca novel ini akan mengetahui kondisi lingkungan dan kondisi sosial budaya masyarakat Kampung Melayu Belitong yang hidup dibawah garis kemiskinan yang ironisnya ternyata hidup berdampingan dengan komunitas masyarakat gedong PN Timah yang hidup dengan segala kemewahan dan fasilitas yang lebih dari cukup.
Novel ini juga memuat glossarium lebih dari seratus entri yang sebagian besar berisi entri nama-nama latin tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral yang ada dalam perut bumi, makanan, istilah ekonomi, budaya dan lainnya.
Dari segi alur cerita novel ini sepertinya akan memikat pembacanya untuk segera menyelesaikan novel inspiratif ini. Kalimat-kalimatnya enak dibaca dan mengalir secara lancar.
Namun kemunculan nama-nama latin dari tumbuh-tumbuhan sepertinya akan membuat kelancaran membaca novel ini menjadi sedikit tersendat. Selain itu eksplorasi tokoh Lintang yang jenius disaat berdebat dengan seorang guru dari kota pada saat lomba cerdas cermat terasa tidak logis bagi seorang anak SMP karena di bagian ini Lintang dengan fasih memaparkan prinsip-prinsp optik Descrates, Newton, sampai Hooke.
Namun karena kisah ini dikemas dalam bentuk fiksi maka batas antara fakta dan fiksi kiranya tak perlu diperdebatkan. Pada intinya novel Laskar Pelangi menyampaikan pesan mulia bahwa kemiskinan bukanlah alasan untuk berhenti belajar dan bukan tak mungkin sebuah sekolah kecil dengan segala keterbatasannya ternyata mampu melahirkan kretaivitas-kreativitas yang melampaui sekolah-sekolah favorit yang telah mapan baik dari segi fisik maupun pengajarannya.
Selain itu kehadiran Novel Laskar Pelangi ini setidaknya akan membuktikan bahwa penulis lokal mampu menghasilkan sebuah novel yang menggugah dan inspiratif yang selama ini sepertinya didominasi oleh penulis-penulis asing.











Sumber : https://fayday.wordpress.com/2007/10/24/5/

[REVIEW] Bulan Terbelah di Langit Amerika

 
Judul : Bulan Terbelah di Langit Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama : Mei 2014
ISBN : 978-602-03-0545-5

"Apa yang akan engkau lakukan jika punya waktu beberapa menit saja untuk menyadari bahwa 'harimu' telah tiba?" hal. 13
Meski telat membaca novel yang pernah booming ini, tak mengurangi rasa antusiasku membacanya. Terima kasih kepada teman yang sudah berbaik hati meminjamkan buku ini.
Novel ini berkisah tentang perjalanan Hanum yang tinggal di Wina bersama suaminya Rangga Almahendra. Takdir yang tak pernah disangka, membawa keduanya akan berangkat ke Amerika. Hanum yang diberikan tugas oleh Gertrud  Robinson untuk menyelamatkan perusahaan koran Heute ist wunderbar. Gertrud yang merupakan atasan Hanum, memberinya tugas ke Amerika untuk meliput peristiwa 11 September. 
Hanum merasa berat menerima tugas ini. Namun, ia tak punya pilihan lain. "Would the world be better without islam"? Bagaimana mungkin Hanum menolak tugas ini dari Gertrud yang juga mendapat tekanan dari dewan direksi? Jika saja orang lain yang akan mengambil tugas ini justru malah membuat nama islam semakin terpojokkan di mata dunia. Tapi bagaimana Hanum harus meramu topik ini agar tidak melecehkan agamanya sendiri?

"Media hanya butuh sensasi. Sensasi untuk menjaga eksistensi dan kehidupannya di tengah persaingan keras." hal. 45

Rangga yang kebetulan memiliki tugas atas idenya sendiri, mengharuskan ia ke Amerika dan menghadiri presentasi Phillip Brown, seorang dermawan yang tak tanggung-tanggung menyumbangkan kekayaannya untuk mendanai korban perang khususnya di Afganistan. Kali ini, diluar dugaannya, Hanum, istrinya juga memiliki tugas di Amerika. Lalu, bagaimana kisah perjalanan Hanum menemukan narasumber yang tepat? Sekitar tiga ribu lebih korban peristiwa pesawat menabrak gedung WTC. Tak satupun dari mereka yang ditemui Hanum bersedia menjadi Narasumber.

Membaca novel ini membuatku lupa keadaan sekitar. hehehe. Novel ini membuat pembaca ikut merasakan kisah yang sangat mendebarkan dari perjalanan Hanum dan Rangga. Sisi religius dalam novel ini sangat menohok pembaca untuk ditilik lebih jauh. Sebuah fakta yang tak lazim, jika negara-negara Eropa dan Amerika menganggap Islam sebelah mata. Wajar saja, jika Hanum mengalami kesulitan mendapatkan narasumber.
Aku merasa iri membaca novel ini, bagaimana kedua penulis yang jadi tokoh utama dalam novel ini dapat menyuguhkan sebuah kisah yang sangat mengulik-ulik sisi emosionalku. Kesan romantis dari keduanya membuat pembaca tersenyum-senyum sekaligus kagum. Aku kagum pada sosok Hanum yang gigih, juga pada Rangga yang menurutku memiliki banyak kejutan.
Ada juga tokoh lain yang muncul dalam novel ini. Michael Jones dan Julia Collins. Bagaimana keduanya memiliki sisi kehidupan yang berbanding terbalik. Jones, yang sangat membenci islam sejak peristiwa 9/11 dan menentang pembangunan masjid di sekitar Ground Zero. Julia yang merasa sangat kehilangan orang yang paling dicintainya harus menelan kepahitan sejak peristiwa 9/11, belum lagi Julia harus menghadapi ibunya sendiri yang sangat membenci islam. Mungkinkah Iman Julia yang muallaf goyah sejak peristiwa 9/11?. Lalu bagaimana cara Hanum meyakinkan mereka untuk menjadi narasumber? sementara itu, waktu yang dimiliki Hanum sangat sedikit.
Ada juga detik-detik yang sangat menegangkan saat membaca novel ini. Saat dimana Hanum dan Rangga terpisah karena insiden di salah satu tempat di Amerika. Apakah Rangga bisa menemukan Hanum ?
"Aku selalu merasa energi tali komunikasi yang paling kuat antara sepasang suami istri yang saling mencintai adalah Telekomunikasi hati. Ketika tak ada lagi peranti yang menjembatani keduanya untuk berbicara satu sama lain, kekuatan hati adalah ujung tombak yang tak tergantikan." hal. 106


Alur yang ada dalam novel ini kebanyakan alur maju. Sehingga pembaca bisa cepat mengerti setiap detail kisah dalam novel ini. Juga ending yang membuatku terperangah. 
Selain itu, aku cukup terhibur membaca novel ini, seakan ikut menjelajah negeri paman Sam, menguak fakta-fakta lain tentang keberadaan islam di Amerika, bagaimana sebuah patung yang dipahat dan bertuliskan nama nabi Muhammad, lalu keberadaan museum yang menyimpan banyak sejarah dimana Julia bekerja. Bahasa yang digunakan pun ringan sehingga tidak berbelit-belit karena terkadang, saat membaca novel bernilai sejarah, kadang aku harus berhenti sejenak untuk memahami sisi historis dalam novel tersebut.

"Setiap pertemuan selalu menyisakan perpisahan, cepat atau lambat. Manusia boleh mencintai manusia lain, tapi tak boleh melebihi cintanya pada sang Khalik." hal. 180
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Sumber : https://pena-edelweiss.blogspot.co.id/2016/09/review-bulan-terbelah-di-langit-eropa.html